Rabu, 21 November 2007


Batik ATBM di Apip's Batik

Perjalanan saya kali ini menuju ke sebuah rumah yang teduh nan nyaman yang berada di daerah jalan Kaliurang, tepatnya Jln. Pandega Marta 37A, Pogung. Nama toko yang saya tuju adalah Apip’s Batik, cukup pendek dan mudah untuk diingat. Apip’s batik adalah salah satu toko kerajinan batik yang ada di Jogja. Tentu saja ada yang membedakannya dengan kerajinan batik yang lain, so come on, let’s check it out!

Pada awalnya, motif batik di Apip's batik berlatar belakang pada budaya batik Pekalongan. Namun seiring dengan perkembangannya, Apip's saat ini telah memiliki ciri khas tersendiri dengan menghadirkan berbagai motif daerah di pelosok negeri yang pewarnaannya sudah mengambil warna-warna modern, tanpa meninggalkan pewarnaan batik tradisional.

Keistimewaan yang dapat Anda temui di Apip’s batik adalah bahan batik yang terbuat dari sutera. Tapi tunggu dulu, bukan sembarang sutera, melainkan sutera tenun tradisional yang kini lebih dikenal dengan sutera ATBM (Alat Tenun Bukan Mesin). Untuk bahan sutera ini, Apip’s sudah memiliki mitra kerja tetap sehingga tekstur kain bisa khas dan berbeda dengan sutera ATBM lain yang ada di pasaran. Selain bahan batik dari sutera ATBM, Apip’s juga menyediakan batik dari sutera super dan sutera mesin.

Istimewanya lagi, untuk pewarnaan batik-batiknya, Apip's batik menggunakan tumbuh-tumbuhan yang bisa menghasilkan berbagai warna modern sebagai bahan utama. Walau banyak warna batik modern, warna sogan yang merupakan warna batik tradisional pun tidak dilupakan dan tetap dipakai dalam beberapa kerajinan batiknya. Sedangkan untuk motif batiknya sendiri, tersedia batik tulis dan batik cap. Khusus untuk batik cap, pengerjaannya juga tetap mendapatkan sentuhan batik tulis pada motif-motif tertentu yang tidak bisa dijangkau oleh cap demi mendapatkan motif batik yang sempurna. Anda pasti semakin penasaran dengan barangnya, kan?

Sebagai informasi, Apip’s batik memiliki bidikan atau sasaran pasar orang dewasa, seperti suami-istri, atau orang yang sudah mapan pekerjaannya. Karenanya penggarapan dan barang-barangnya pun disesuaikan dengan pasar tersebut. Barang-barang kerajinan batik yang bisa Anda temukan adalah berbagai produk pakaian dan asesorisnya. Ada kain pantai atau pareo, selendang besar dan selendang kecil, sarimbit (pakaian untuk pasangan suami istri), three in one, serta berbagai model pakaian dewasa laki-laki dan perempuan.

Soal pilihan, semua kembali kepada selera Anda sebagai pembeli. Yang pasti, Apip’s batik menyediakan berbagai pilihan yang bagus dan berkualitas tinggi. Soal harga, sebagai gambaran saja, bahan kemeja dari sutera ATBM berkisar antara Rp 900.000,- - Rp 1.250.000,-. Sedangkan dari bahan sutera super berlisar antara Rp 450.000,- - Rp 800.000,-. Kain selendang dari sutera super, harganya sekitar Rp 400.000,- - Rp 1.500.000,-, dan yang sutera ATBM sekitar Rp 1.750.000,- - Rp 7.500.000,-.

Berminat untuk tahu lebih banyak? Anda dapat langsung mendatangi tokonya atau menghubungi via telepon di +62-274-589914, 580665. Kalau Anda juga penasaran dengan kegiatan produksi Apip’s batik, Anda dapat mengunjungi griya seninya di Pugeran Maguwoharjo, Ring Road utara (+62-274-7484477). Tapi karena hanya rumah produksi, Anda pun tidak bisa membeli barang kerjinan di sana.(titi)



Batik Pasar Beringharjo


Kalau kota Solo terkenal dengan Pasar Klewer-nya, Jogja terkenal dengan Pasar Beringharjo. Pasar tradisional yang terletak di jalan Malioboro bagian selatan dan dekat dengan benteng Vredeburg ini merupakan salah satu ciri khas Jogja. Pasar ini sangat luas dan terdiri dari tiga lantai dengan masing-masing lantai dan tempat memiliki pos barang dagangan yang berbeda-beda. Kali ini Anda akan diajak untuk menjelajahinya dan mendapatkan berbagai barang yang Anda cari. Namun terlebih dulu siapkan diri untuk berdesakan dan menawar harga. Anda siap? Ayo...!!!!

Salah satu oleh-oleh yang banyak tersedia di Pasar Beringharjo adalah batik mengingat batik juga menjadi salah satu barang khas Jogja. Kalau dulu batik identik dengan hal-hal yang berbau tradisional sehingga lekat dengan adat Jawa dan orang tua, kini sudah menjadi salah satu tren untuk semua umur.

Koleksi batik di pasar ini cukup lengkap, baik untuk anak-anak, remaja, dan orangtua, semua tersedia dalam berbagai model, termasuk jika anda ingin membeli batik yang seragam untuk keluarga. Berbagai macam batik dapat ditemukan di sini, dari kain batik, jarit (kain batik untuk bawahan berbusana jawa), baju batik untuk resepsi atau acara resmi, daster batik, seprei batik, sampai dengan asesoris rumah dari batik.

Kios-kios yang ada di pasar Beringharjo ini menjual berbagai batik yang dibuat oleh para pengusaha kelas kecil dan menengah sehingga tidak banyak merek terkenal atau merek tertentu, meskipun ada beberapa. Jadi pasar ini tepat buat mereka yang tidak fanatik terhadap satu merek batik tertentu.

Jajaran kios batik ini terletak di bagian depan sayap kiri pasar dan bagian dalam setelah memasuki pintu utama sampai dengan 75 meter ke belakang. Banyak sekali kios-kios yang menjual berbagai hal berbau batik, jadi anda dapat berkunjung dari satu kios ke kios yang lain. Harganya pun sangat beragam, dari yang belasan ribu sampai puluhan ribu bisa ditemukan. Kunci untuk berbelanja di tempat ini adalah kepintaran untuk memilih barang dengan kualitas yang bagus dan kemampuan untuk menawar. Bukan tidak mungkin, barang yang didapatkan kualitasnya tidak terlalu bagus tetapi harganya cukup tinggi.

Terdapat dua pilihan Batik yang dijual di Pasar Beringharjo yaitu batik cetak dan batik tulis. Batik cetak adalah batik yang motifnya dicetak dengan mesin, sedangkan batik tulis motifnya dibuat asli perlahan-lahan dari tangan si pembuat dengan menggunakan bahan malam dan alat yang bernama canting. Untuk membedakannya, perhatikan bagian dalam dan luar kain batik yang akan dibeli. Jika bagian dalam dan luar tidak sama, yaitu bagian luar tercetak jauh lebih jelas, maka itu merupakan batik cetak, tetapi jika bagian dalam dan luar sama, itulah batik tulis. Karena rumitnya pembuatan, harga batik tulis relatif jauh lebih mahal.

Batik di Pasar Beringharjo dapat dibeli dalam jumlah yang besar karena selain wisatawan yang membeli oleh-oleh batik secukupnya, pasar ini merupakan pusat grosir penjual batik eceran di Jogja maupun luar Jogja. Sayangnya, pasar ini hanya buka sampai jam 5 sore.

Satu lagi yang perlu diingat, Pasar Beringharjo, seperti pasar-pasar lainnya adalah tempat umum yang rawan copet. Berhatilah-hatilah dengan barang berharga Anda, siapa tahu, ada copet yang sedang mengawasi. Siapkah Anda berbelanja batik?(titi)

Kain Batik

Batik memiliki beragam motif. Tak hanya dari dalam negeri, batik ada yang berasal dari mancanegara, seperti Rusia.

Di Indonesia sendiri, motif batik juga bervariasi, diantaranya adalah batik Jogja dan batik SOlo. Walau keduanya menggunakan ukel dan semen-semen, namun sebenarnya kedua batik ini berbeda. Perbedaannya terletak pada warnanya. Batik Jogja berwarna putih dengan corak hitam, sedangkan batik Solo berwarna kuning dengan corak tanpa putih.

Penggunaan kain batik ini pun berbeda-beda. Di Kraton Jogja, terdapat aturan yang pakem mengenai penggunaan kain batik ini. Untuk acara perkawinan, kain batik yang digunakan haruslah bermotif Sidomukti, Sidoluhur, Sidoasih, Taruntum, ataupun Grompol. Sedangkan untuk acara mitoni, kain batik yang boleh dikenakan adalah kain batik bermotif Picis Ceplok Garudo, Parang Mangkoro, atau Gringsing Mangkoro.

Saat ini batik telah menjadi tren baru di tengah masyarakat. Tak hanya sandang yang menggunakan kain batik sebagai bahannya. Sarung bantal, gordyn, dan seprei pun telah ada yang menggunakan kain batik. Ini adalah awal mula yang baik bagi pelestarian seni batik. Awalnya harus mencintai dahulu, kemudian muncul rasa andarbeni (memiliki) dan akhirnya nguri-uri (melestarikan).

Kesadaran ini sudah mulai dan terus digalakkan. Batik Tamanan Kraton pun dibentuk untuk khusus membatik motif Kraton Jogja.(ind)

Beragam Baju Batik Koleksi �Bona�

Trend batik semakin berkembang akhir-akhir ini. Jika dulu masyarakat mengenal batik hanya pada kain dan kemeja pria, saat ini banyak wanita dan anak-anak yang juga gemar mengenakannya. Beberapa daerah seperti Jogjakarta, Solo, dan Pekalongan terkenal sebagai penghasil batik. Jika batik Jogjakarta dan Solo dikenal memiliki pakem dan aturan tertentu dalam pemakaiannya, batik Pekalongan cenderung lebih bebas. Kebebasan ini salah satunya nampak dari hasil batikan yang memiliki ragam corak dan warna yang cukup banyak.

“Satu hal yang turut mempengaruhi kebebasan batik pekalongan adalah lokasinya yang berada di sekitar pesisir”, ungkap Vita, putra ke-dua Any Rakhmaningsih sang pemilik Bona Batik. Tidak mengherankan bila akhirnya muncul aneka motif batik dari berbagai hewan, tumbuhan, maupun unsur alam dengan warna-warna cerah. Batik-batik itu semakin terlihat indah dengan aneka model baju yang sedang trend di kalangan masyarakat. Untuk mendapatkan berbagai koleksi tersebut Anda dapat berkunjung ke Batik Bona yang beralamat di Jl. Gejayan Soropadan No. 35 Jogja. Disana Anda akan menemukan beraneka macam baju mulai dari baju untuk anak-anak, remaja, wanita dan pria, serta daster santai untuk ibu-ibu yang tentunya sangat cocok untuk dijadikan oleh-oleh bagi teman atau sanak keluarga.

Usaha yang lebih fokus pada pakaian ini telah berdiri sejak puluhan tahun silam. Sebutan ‘Bona’ sebenarnya merupakan warisan dari sang nenek. Saat itu Bona merupakan toko perlengkapan bayi. Setelah diambil alih oleh Any Rakhmaningsih sekitar tahun 1983 usaha ini dialihkan ke batik untuk turut mengembangkannya sebagai salah satu kekayaan budaya. Sementara di Jogjakarta usaha ini baru berdiri sekitar dua tahun lalu.Batik pada umumnya terbagi menjadi dua macam yakni, batik tulis dan batik cap. Itu pulalah yang ditawarkan oleh Bona Batik dalam koleksinya. Meskipun berasal dari pekalongan, batik yang ditawarkan tidak melulu bermotif bebas dan cerah. Ada beberapa motif Jogja yang yang rapi dan ‘batik banget’ dengan warna coklatnya dalam berbagai model baju.

Tingkat kerumitan dalam pembuatannya tentu akan berpengaruh pada harga yang ditawarkan. Batik cap misalnya, dalam balutan daster dan baju santai dapat diperoleh dengan harga Rp 22.500. Sementara untuk koleksi baju pria dan wanita dengan model lebih resmi harganya berkisar antara Rp 55.000 hingga Rp 325.000.Bona batik juga melayani permintaan dalam partai besar. Jika Anda berniat untuk menyalurkannya sebagai salah satu usaha, mereka siap melayami. (les)


Setaman, Surganya Batik dan Kerajinan

Saat Anda berkunjung ke kota Jogja, tentunya tak akan melewatkan Malioboro yang sudah menjadi ikon kota budaya ini. Malioboro memang menawarkan banyak hal, mulai dari mall yang menjadi lambang modernitas sampai dengan pedagang kaki lima yang menyajikan berbagai makanan khas dan kerajinan tradisional. Sehingga tidak mengherankan bila ada yang menyebutnya sebagai surganya belanja.

Jika Anda ingin lebih mengenal kebudayaan Jogja, datanglah ke Keraton yang terbuka untuk umum. Di tempat ini Anda bisa mendapatkan banyak pengetahuan mengenai awal berdirinya kota budaya ini hingga peninggalan-peninggalan dan tokoh-tokohnya. Lokasinya sangat mudah dijangkau, bila Anda telah berada di Mallioboro ambilah jalan lurus menuju Alun-alun Utara. Perjalanan dapat dinikmati dengan naik becak atau andong bahkan berjalan kaki saja.

Setelah menikmati suguhan di Keraton, sangat disayangkan bila langkah kaki Anda tidak diarahkan menuju pasar Ngasem yang berdempetan dengan Taman Sari. Tempat ini tidak jauh dari Keraton, bahkan Anda dapat mencapainya hanya dengan melangkahkan kaki ke aras barat sedikit dan berbelok ke selatan.

Memasuki jalan pasar ini Anda akan langsung disambut dengan jajaran kios yang menawarkan aneka sangkar burung. Jangan heran, karena tempat ini memang mendapat predikat sebagai pasar burung. Tetapi jangan mengira bahwa Anda hanya akan menemukan burung, karena di pasar yang berlatar belakang Taman Sari ini juga menjadi tempat persinggahan ikan dan binatang piaraan lain seperti, anjing, kucing, ular, kura-kura, dan sebagainya.

Jika Anda berencana untuk menjadikan pasar Ngasem dan Taman Sari sebagai persinggahan terakhir dari perjalanan di pusat kota, jangan lupa untuk mampir ke Setaman yang ada di ujung sayap kanan pasar ini.

Di tempat yang dari luar hanya nampak seperti toko batik ini Anda akan menemukan banyak kejutan. Disana terdapat banyak pintu yang akan menghubungkan Anda dengan ruangan-ruangan yang menyajikan berbagai karya seni unik.

Di ruangan sebelah kanan, Anda dapat menikmati aneka kerajinan kalsik dan perak. Memasuki ruangan lebih dalam, Anda akan disambut dengan jajaran lukisan batik serta keramik dan wayang. Sebagian kerajinan inni berasal dari Kampung Taman dan Taman Sari yang terletak di belakang showroom ini. Untuk mendapatkan berbagai lukisan batik tadi Anda dapat mengeluarkan uang antara Rp 30.000 sampai dengan Rp 100.000

Setelah menikmati berbagai karya seni di ruangan ini, Anda dapat kembali melihat-lihat berbagai koleksi baju batik di sebelahnya. Lebih masuk lagi, Anda akan menemukan ukiran-ukiran yang tertulis pada hamparan kain sutra. Berbagai motif batik mulai dari Pekalongan hingga Solo bisa ditemukan disini. Namun bagi Anda yang menginginkan batik produksi Setaman, motif Jogja adalah keahliannya.

Usaha batik milik Hj Siti Utami Pertiwi ini diproduksi di Ringroad Selatan. Berbagai koleksi baju mulai dari anak-anak hingga dewasa pria dan wanita dirancang khusus bagi Anda. Sebagai gambaran, kemeja pria sutra tulis harganya berkisar antara Rp 500.000 sampai dengan Rp 2.000.000, tergantung dari jenis bahan dan kerumitan pembatikannya. Sementara untuk sutra wanita yang terdiri dari bahan busana dan selendang harganya berkisar antara Rp 500.000 sampai dengan Rp 15.000.000. Untuk Sarimbit atau setelan pasangan pria dan wanita dengan bahan sutra ATBM (alat tenun bukan mesin) dihargai Rp 2.470.000. Cukup mahal mungkin, tetapi kualitas bahan dan motif yang tiada duanya sehingga tidak akan ada orang yang memiliki motif serupa, memberi kepuasan tersendiri.

Untuk membawanya sebagai buah tangan bagi banyak teman dan kerabat, Anda dapat membeli kerajinan atau baju yang lebih murah. Batik berbahan katun bisa menjadi salah satu alternatifnya. Sebagai contoh, kemeja pria dengan batik cap dijual dengan harga Rp 37.500, sementara untuk batik tulis dihargai Rp 135.000. Pilihan lainnya adalah baju santai yang harganya berkisar antara Rp 13.000 sampai dengan Rp 75.000 .

Bila Anda tidak menemukan model atau ukuran dan motif yang kurang sesuai dengan selera Anda, tempat ini menyediakan service jahitan dengan tarif Rp 85.000 per potong. Jangan khawatir meskipun rumah Anda jauh dari Jogja. Setaman dengan super servicenya akan mengirim ke rumah anda tanpa dikenai biaya tambahan. Jadi, Anda tak perlu repot bukan? (les)



Batik Tulis Girisari Girirejo, Awet dan Berseni Tinggi

Pada sebuah acara kawinan, mempelai wanita mengenakan kain batik sidomukti, sedangkan orangtua mempelai mengenakan batik motif truntum. Kemudian pada upacara mitoni, si calon ibu tampil berbalut kebaya dengan motif asih.

Walau tampaknya sederhana, kain batik di Jawa mempunyai perannya masing-masing. Termasuk di Jogja saat ini yang masih kental dengan upacara-upacara adatnya. Dalam upacara tersebut, pakaian yang tidak pernah absentadalah batik. Batik dipakai sebagai pasangan kebaya, atau kalau yang lebih modern, kain batik disulap menjadi kemeja dan kebaya. Jogja juga menjadi surganya kerajinan batik

Memperhatikan tiap ukiran motif-motif batik, tentu kita penasaran, bagaimana membuatnya hingga menjadi lembaran kain batik tersebut. Batik sendiri sekarang tersedia dalam berbagai macam dilihat dari pembuatannya. Batik tulis, batik printing, dan batik cap. Tentu saja kualitas terbaik ada pada batik tulis. Batik yang proses dibuat secara tradisional ini jelas mempunyai seni yang tinggi. Memerlukan waktu yang lama untuk bisa mengerjakannya. Serta butuh perhatian tinggi untuk membatiknya dengan malam.

Imogiri yang kaya akan kerajinan batik tulisnya memang menyediakan banyak alternatif. Satu yang menjadi pilihan di Imogiri adalah koleksi batik tulis di Batik Girisari Girirejo. Kios batik yang dikelola oleh Bapak Slamet (46) ini menyediakan banyak pilihan kain batik tulis, terutama kain batik soga Jogja.

Bapak 2 anak ini memulai karirnya ketika masih kecil ia sudah menyukai dunia per-batikan. Ia mulai dengan belajar membatik, dan banyak mengikuti kursus-kursus batik. Awalnya ia hanya pembatik pada sebuah kios milik orang lain. Pada tahun 1985, ia bersama teman-temannya memutuskan untuk bekerja sama mendirikan kios sendiri yang menjual kain hasil karya sendiri. Hingga saat ini ia bersama 20 orang pembatik lainnya-lah yang menjadi produsen di Batik Girisari Girirejo ini.

Menurut Bapak Slamet, satu keunggulan batik tulis dibanding batik printing dan cetak adalah keawetannya, karena warna tidak cepat pudar seperti jenis lainnya. ditambahkannya lagi, dalam setiap upacara dan perayaan adat, orang akan lebih mantap dengan memakai kain dengan batik tulis. "Ini lebih pada kepercayaan dan sugesti yang dirasakan," tambahnya.

Untuk harga, sebuah kain batik tulis dihargai dari tingkat kesulitan dan detail motif lukisannya serta jenis kainnya. Di kios ini, sebuah kain batik semisal motif pringgodani, asih, dan prabu anom yang tingkat detailnya rumit, dihargai Rp 1.000.000,- sampai Rp 2.000.000,-. Namun harga ini sebanding dengan nilai seni yang didapat dari kain batik tersebut. Per lembarnya bisa dibuat hingga memakan 2 bulan waktu pengerjaan. Sedangkan untuk batik tulis lainnya, harga berkisar Rp 100.000,- ke atas.

Dari jenis kain, kios ini menawarkan kain dengan bahan sutra, prima, dan primisima. Meskipun mengandalkan batik tulis, tapi di kios ini juga ditawarkan sedikit batik printing dan batik cap yang harganya memang jauh lebih murah dibanding batik tulis. Juga ada batik modern, dengan motif yang banyak dimodifikasi dan dengan warna sintetis yang lebih beragam

Sempat kios ini menawarkan kemeja-kemeja batik jadi, namun menurut Bapak Slamet, kemeja pasarnya lebih susah. Akhirnya Bapak Slamet kembali berfokus pada kain batik tulisnya. Hingga kini, yang banyak disayangkan adalah kain batik yang penggunannya semakin berkurang. Ini disebabkan antara lain masyarakat menganggap mengenakan batik terkesan ribet, dan kesan etniknya terlalu kuat sehingga hanya cocok dipakai pada event tertentu saja. Padahal sekarang batik telah dimodifikasi sedemikian rupa agar masyarakat lebih menyukainya.

Batik Girisari Girirejo beralamat di Pajimatan RT/RW D5/6 Girirejo, Imogiri, Bantul. Juga bisa ditemui di Pasar Seni Gabusan Los4/Kav.1. Untuk menjaga keawetan kain batik, diperlukan perawatan yang khusus untuk kain batik. Tidak rumit, cukup dicuci biasa dan diangin-anginkan tanpa sinar matahari yang keras. Nah, kalau sudah beli batik, ayo berangkat ke kondangan. (opi)


Mari Mengenal Batik: Pudarnya Pemaknaan Motif Batik

Berbicara soal batik memang selalu identik dengan masyarakat Jawa. Hal ini tentunya tak lepas dari adanya motif atau gambar pada kain yang berasal dari kerajaan di wilayah Jawa. Namun barangkali tak banyak orang (terutama kaum muda) yang mengetahui bagaimana asal muasal adanya batik ini. Apalagi mengenal lebih jauh mengenai berbagai jenis motif dan juga filosofinya.

Untuk itu, dengan tuntunan seorang kurator museum batik saya akan mengajak Anda untuk sedikit mengupas aneka motif tradisional yang sampai dengan saat ini masih banyak digunakan oleh masyarakat jawa tersebut. "Sebenarnya batik mulai dikenal masyarakat karena aturan dari raja yang dianggap sebagai wakil dewa pada masa 1927-an," ungkap Drs. Bejo Haryono alias Pak Bejo memulai obrolan tentang batik.

"Kalau berbicara soal motif, sangat luas. Karena kita berpacu pada beberapa sumber yang harus kita ungkap." Misalnya saja Sewan Soesanto, ia membagi batik dalam sembilan kelompok berdasarkan nama, yakni lereng, semen, parang, truntum, kawung, gringsing, ceplok, nitik, motif pinggiran, dan terang bulan. Sementara berdasarkan balai penelitian batik, motif itu terbagi menjadi tiga kelompok, motif figuratif, semi figuratif, dan non figuratif. Pengelompokan yang lain adalah berdasarkan warna, yakni bambangan (merah), bangjo (merah-hijau), dan kelengan (ungu). Sebagian lagi mengelompokkan batik berdasarkan pembatiknya sendiri seperti, Wan Tirto dan Harjo Negoro.

"Namun secara umum batik terbagi dua macam, yakni geometris dan non geometris. Ini menurut Vanderhoop," sambung bapak dua anak ini. Motif geometris atau yang berdasarkan ilmu ukur dapat kita lihat pada batik yang gambarnya garis-garis seperti kawung, parang, dan panji. "Secara filosofi, batik ini menggambarkan adanya birokrasi pada pemerintahan. Ada keteraturan dari raja sampai dengan rakyat, atau istilahnya manunggaling kawula gusti."

Sementara motif non geometris yang lebih bebas dapat ditemukan pada batik semen, atau yang bergambar binatang, tanaman, hutan, dan sejenisnya. "Ya, itu menggambarkan kehidupan semen, yakni kehidupan yang semi. Semi itu tumbuh, tumbuh itu berkembang. Nah, orang yang memakai batik ini mempunyai harapan bahwa dalam kehidupannya akan tercukupi dengan sandang, pangan, dan papan," lanjut cerita Pak Bejo sembari menunggu museum yang sepi pengunjung.

"Dalam perkembangannya, orang memakai batik bukan karena makna atau filosofinya, namun lebih pada kepantasan atau keindahan saja." Ketidakteraturan tersebut terlihat dari banyaknya anak-anak muda sekarang memakai batik parang dan kawung. Padahal sebenarnya batik motif ini tidak boleh dipakai masyarakat umum, karena hanya diperuntukkan bagi kerabat kraton. "Parang itu hanya untuk raja. Ini mengacu pada hukum adat yang memang tidak tertulis," jelasnya lagi.

Ini bukan mutlak kesalahan dari para generasi muda. Karena, bahkan di lingkungan kraton yang merupakan akar tumbuhnya batik pun pemaknaan ini mulai memudar. Walaupun memang masih ada pemakaian berdasarkan penggolongan itu, tapi tetap ada pemudaran. "Padahal kalau ditinjau dari sejarah, batik ini kan muncul dan berawal dari kerjaan sampingan para selir yang jenuh karena menunggu kunjungan sang raja. Setelah itu baru dikembangkan oleh para seniman kerajaan dan disebarkan oleh para saudagar. Batik saudagaran inilah yang ditiru pabrik dan kemudian menyebar di masyarakat," ungkap bapak kelahiran 1948 ini. (les)